desa grinting

Asal usul Desa grinting 


PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb desa 
**************************************
ALASAN

 Untuk mengetahui sejarah dan latar belakang berdirinya ( di namainya ) Grinting, sehingga di harapkan ,masyarakat Grinting kususnmya dapat mengetahui asal usul dan sejarah desanya sendiri.
SUMBER-SUMBER SEJARAH
Pada umumnya sumber-sumber yang sejarah di gunakan di dalam penyusunan sebuah penelitian sejarah adalah :
1. Sumber benda, yaitu benda-benda peninggalan sejarah yang masih dapat di gunakan acuan di dalam penelitian tersebut ( Candi,batu-batu,petilasan dsb ).
2. Sumber tertulis, yaitu peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa tulisan, buku-buku maupun peninggalan lainnya yang mempunyai tulisan.
3. Sumber lisan, yaitu cerita dari pelaku-pelaku sejarah atau orang yang mengetahui secara pasti dan dapat di pertanggung jawabkan.
Tetapi keterbatasan sumber-sumber di atas, maka dalam penyusunan kali ini kami mencoba menggunakan metode yang tidak lazim di pakai yaitu metode "Konsultasi Ghoib", ( komunikasi dengan para leluhur-leluhur/punden ) sehingga akan banyak kekurangan-kekurangannya di mana banyak hal-hal yang sulit untuk di buktikan secara ilmiah / rasio.
Maka dengan segala kerendahan hati dan segala kekurangannya, kami mohon maaf apabila di sini masih banyak hal-hal yang perlu di benahi, dan anggap saja tulisan ini hanya salah satu wacana dan salah satu acuan saja yang tentunya bisa di percaya atau tidak sama sekali. Dan semuanaya kami serahkan kepada penilaian masing-masing.
Dan untuk sekedar di ketahui, bahwa banyak para punden ( leluhur yang hanya berkenan di tulis nama aslinya ), tapi ada yang tidak mau sama sekali namanya di tulis. Tapi juga ada yang berkenan hanya di tulis nama alias julukan, samaran atau nama keningratantya. Sehingga mungkin ada beberapa nama yang asing bagi kita, kususnya masyarakat desa Grinting, dan juga tidak di sebutkanaya angka tahun, sehingga sulit bagi kami untuk mengetahui secara pasti kapan para leluhur desa Grinting masa-masa hidupnya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu tulisan ini, khususnya para sepuh pinisepuh, para punden ( leluhur ) desa Grinting yang telah berkenan memberikan bahan-bahan dalam tulisan ini, tak lupa kami mohon maaf kepada semua pihak apabila dalam tulisan ini banyak kekeuranganya.
Wassalamualaikum wr.wb,
PERIODE 1
Wilayah geografis desa Grinting pada awalnya meliput :
Sebelah utara : Hanya sampai pada kurang lebih 100 meter dari balai desa lama, karena sebelah utaranya sudah merupakan garis pantai laut jawa, ( dulu di sebut jeglong / tengglong ).
Sebelah timur : Sampai pasar Bulakamba yang sekarang, yang dulu di sebut bukan ( tanah kosong yang luas ).
Sebelah selatan : Sampai kurang lebih 1 km dari jalan raya yang sekarang.
Sebelah barat : Sampai batas sungai Kluwut yang sekarang ( sungai Kluwut dulu masuk wilayah desa / pedukuhan Grinting.
Masyarakat Grinting saat itu hidup dari pertanian dan sebagian besar masyarakat justru sebagai nelayan, di mana banyak nelayan yang sudah melakukan perdagangan antar daerah bahkan melakukan perdagangan sampai ke;luar jawa walaupun masih menggunakan peralatan ( perahu ) yang sangat sederhana dan di dukung oleh keadaan alam yang masih hutan, rawa dan peradaban yang masih sangat sederhana bahakan cenderung primitip.
Sementara kondisi sosial budaya masihlah sangat sederhana, di mana komunitas penduduknya yang relatip jumlahnya masih sedikit, sehingga sangat mempengaruhi cara bermasyarakatnya yang masih mempertahankan nilai-nilai kerukunan dengan segala keterbatasanya. Sementara nilai-nilai keyakinanya masih bersifat Animisme dan Dinamisme.
Oleh karena itu, dalam tatanan bersosialnya masih menggunakan adat istiadat lama dmana seringya menggunakan tata upacara ritual yang menggunakan sesaji dan ubo rampe lainya guna melancarkan hajat masyarakatnya, terutama menyangkut keselamatan bersama, baik yang masih hidup maupun para arwah leluhur agar di beri kebahagiaan di alam kelanggengan.
Komunitas masyarakatnya waktu itu sudah mengangkat seorang sesepuh ( tetua/pemimpin ) desa (pedukuhan ) yang di kenal dengan nama MBAH WANGSA.
Mbah Wangsa di kenal sebagai orang yang memepunyai banyak kelebihannya ( linuwih ) dibandingkan dengan kebanyakan orang-orang waktu itu. Mbah Wangsa inilah leluhur pertama desa yang waktu itu menempati sebuah rumah kecil yang terbuat dari bambu, beratap daun kelapa, dan alas tidurnya menggunakan kulit harimau, sehingga kemudian di kenal dengan sebutan Mbah Loreng atau Mbah Belang.
Di sini beliau tidak berkenan menyebutkan asal usulnya, hanya menuturkan desa Grinting berasal dari kata daun kering ( garing ) yang bisa di gulung ( dilinting ), karena banyaknya masyarakat yang menggunakan daun pisang dan daun jagung sebagai sarana untuk merokok, di samping sebagai salah satu bahan yang di perdagangkan sebagai sarana untuk mencukupi kehidupan keluarga.
Mbah loreng menempati sebuah perdikan ( tanah ) kecil di tengah desa yang sekarang di kenal dengan sebutan "SUMUR TANTU WETAN. Sumur itu dulu di pakai sebagai sarana kebutuhan air yang sangat fital, karena atas kehendak Tuhan dan kesaktian mbah Wangsa sumur itu tidak pernah kering walu musim kemarau sekalipun, walaupun hanya di buat dari tumpukan kayu sebagai penahan guguran tanah, sehingga masyarakat tiap hari datang untuk mengambil airnya guna keperluan sehari-hari. Maklum daerah pantai yang biasanya sulit mendapatkan air tawar yang bisa di pakai untuk keperluan sehari-hari. Karena sumur itu sering di ambil airnya untuk wantu ( mengisi tempat air ) maka di sebut sumur WANTU, yang akhirnya masyarakat Grinting sering menyebutkan dengan sumur "TANTU".
Mbah Wangsa mempunyai beberapa ilmu dan murid-murid yang nantinya ada beberapa muridnya yang kemudian menjadi tetua di desa Grinting.
Ilmu mbah Wangsa yang di milikinya :
1. Ilmu sapu angin ( ilmu kuno yang apabila di praktekan seseorang bisa berjalan cepat laksana angin )
2. Lembu sekilan ( ilmu kekuatan )
3. Halimunan ( ilmu menghilang dari pandangan orang lain )
4. Ismu guntingan ( kekuatan untuk meleburkan segala yang di pegangnya )
5. Ilmu-ilmu pengobatan, dll.
Beliau juga mempunyai beberapa khodam dan pusaka-pusaka yang sampai sekarang masih bisa kita temui ( melalui terawangan batin ) atau masih tersimpan di dalam goib ( terutama di sekitar makam selatan dan sumur tantu wetan ), di antaranya :
1. Ular banda sayuta ( di anggap barang siapa ketempatan ular ini maka akan mendapatkan kemuliaan )
2. Batu merah delima ( yang menurut penuturan beliau, batu itu sekarang ada di makam selatan )
3. Songsong kencana ( mahkota emas ), beliau hanya menyebutkan berada di utara desa yang sekarang, dan di tunggui oleh khodam YUYU ( mahluk goib yang berbentuk seperti yuyu atau kepiting ), dan masih banyak lagi peninggalan beliau yang dengan kusus mbah Wangnsa menyampaikan untuk tidak di tulis di sini.
Salah satunya kesukaan mbah Wangsa semasa hidupnya adalah kalau makanan berupa nasi putih yang di campur dengan parutan kelapa dan lauknya ikan asin, minumnya air kelapa mud, sedangkan tiap bulan sura atau sapar mengadakan hiburan di pelataran rumahnya berupa kuda lumping atau sejenis sandiwara. Sehingga beliau berpesan tradisi tontonan ini kalau bisa terus di adakan, kususnya apabila ada hajat kusus ( kepentingan kusus ) dari warga masyarakat Grinting dengan mbah Wangsa.
Mbah Wangsa meninggal pada usia 97 tahun, di makamkan di makan selatan, sebelah timur yang sekarang sudah tidak ada bekas petilasanya.
Meninggalkan seorang istri yang bernama SUKARTI dan empat orang anak yang salah satunya menjadi tetua di desa Grinting, ( putra kedua mbah Wangsa ).
Menurut penuturan beliau, sampai sekarang beliau masih mengayomi desa Grinting bersama istrinya dan ular banda sayuta, bertempat di sekitar sumur tantu wetan.
Sepeninggalan beliau tetua desa di teruskan oleh putra keduanya yang bernama KARTA ( SUKMA JATI ) karena anak pertamanya perempuan yang bernama SULIH di persunting seorang jejaka dari Tanjung, maka kemudian berdomisili di wilayah Tanjung yang sekarang.
Sukma jati kemudian melakukan pembenahan-pembenahan desa, diantaranya persawahan, irigasi, sampai pada penataan jalan-jalan desa walaupun wasih sederhana.
Pada masa desa Grinting di tetuai oleh Sukma jati, kehidupan masyarakat desa sudah mulai mengenal tata kehiduan yang sudah mulai maju karena di dukung oleh kesadaran masyarakatnya yang mudah diatur dan senang dengan keber samaan di dalam menyelesaikan segala permasalahan di desanyag.
Sukma jati adalah salah satu orang yang gemar prihatin, bahkan sebagian hidupnya di pakai untuk lelaku, menolong sesama sehingga beliau mendapat julukan Sukma jati ( mempunyai jiwa yang teguh ).
Sukma jati masih menempati rumah mbah Wangsa ( orang tuanya ), bahkan memperbaiki dan membuat pagar sumur tantu peninggalan mbah Wangsa, serta memelihara peninggalan-peninggalan mbah Wangsa baik yang berupa pusaka maupun khodam-khodamnya.
Sukma jati beristri seorang gadis yang masih sepupunya yang bernama NYAI SADIMEN, dan berputra satu orang bernama JAKA WEGIG, yang kemudian merantau ke tanah pasundan ( tepatnya di daerah Sumedang dan kemudian mendirikan padepokan sampai akhir hayatnya, dan di kebumikan di daerah tersebut ).
Sukma jati meninggal pada usia 89 tahun, dan di makamkan di samping makam mbah Wangsa di makam selatan.
Petilasan-petilasan yang pernah Sukma jati buat pada masa hidupnya :
1. Perluasan makam selatan.
2. Melebarkan saluran irigasi di tengah-tengah desa dari selatan ke utara.
3. Membuat padepokan yang memberi pelajaran batin, ( dulu bertempat di sebelah timur masuk desa Grinting yang sekarang ).
Kelebihan Sukma jati :
a. Bisa menyatukan dalam kerukunan antara desa Grinting dengan desa sekitarnya, di mana pada masa itu banyak sekali terjadinya bromocorah, dan tindak kekerasan lainya.
b. Meningkatkan taraf hidup masyarakat.
c. Banyak masyarakat desa yang semakin mengerti tentang tatanan hidup bermasyarakat.
Peninggalan-peninggalan yang berupa pusaka atau khodam :
1. Krincing kyai waja ( yang menurut penuturan beliau berada di batas desa sebelah utara yang sekarang ).
2. Tombak kyai jalak sutera ( tombak yang mempunyai pengaruh besar untuk bisa mempersatukan masyarakat, yang dulu di pakai Sukma jati sebagai sarana kepemimpinanya, sehingga di anggap sebagai tombak piandel desa, yang sekarang keberadaanya menurut beliau berada di pusar makam selatan ).
Perkembangan wilayah desa Grinting makin lama makin ke utara karena proses alam, yaitu terjadinya pengendapan lumpur dan pasir dari laut jawa yang akhirnya perluasan tanah sebelah utara desa di manfaatkan untuk kegiatan nelayan maupun di pakai sebagai rumah-rumah hunian.
Sepeninggalan mbah Sukma jati, yang menjadi tetua desa adalah mbah SANGKAN ( nama julukan / alias ), karena mbah Sangkan baru berada di desa Grinting setelah tua, sedangkan masa anak-anak dan remajanya berada di desa Ketanggungan yang sekarang. Padahal mbah Sangkan adalah masih terhitung keponakan dari mbah Wangsa. ( anak dari adik mbah Wangsa ). Sangkan bisa berarti tidak di ketahui asal usulnya, yang tidak di kira atau di perhitungkan.
Mbah Sangkan sangat di kenal masyarakat Grinting waktu itu karena ahli olah kanuragan ( bela diri ), ahli pengobatan bahkan di percaya sebagai orang linuwih yang tan tedas tapak paluning pande, sehingga masyarakat Grinting mempercayakanya sebagai tetua desa. Mbah Sangkan menempati rumah ( gubug ) di sebelah barat desa di tepi sungai Kluwut yang sekarang, membuka padepokan bela diri sambil mengatur para nelayan.
Mbah Sangkan mempunyai seorang istri yang bernama WITRI dan di karuniai dua orang putra. Yang bernama WAGAM dan PARNI.
Mbah Sangkan meninggal di usia 76 tahun, dan di makamkan di makam selatan. Dan mendapat julukan mbah JENGGOT ( karena memelihara jenggot sampai panjang ).
Jasa-jasa mbah Sangkan :
1. Menata desa menjadi wilayah-wilayah yang di pisahkan dengan jalan-jalan desa.
2. Tempat hunian dan pertanian di pisahkan
3. Keamanan desa yang terjaga baik.
Peninggalan yang berupa benda atau khodam :
a. Sada lanang ( mentrut beliau berada di ringin gede )
b. Rantai wesi jenar atau rantai yang terbuat dari emas, ( beliau tidak berkenan menuliskan keberadaanya di sini )
c. Khodam kyai balung rong dan kyai jugang ( mahluk yang menjaga lapangan bola sebelah utara desa yang sekarang ).
Tetapi pada masa itu perkembangan agama Islam sudah mulai masuk ke wilayah Grinting, sehingga di masyarakat mulai muncul perselisihan ideologi yang menjadikan masyarakat terpecah menjadi dua, antara pro dan kontra terhadap kedatangan Islam.
Islam yang berkembang saat itu banyak sekali berpengaruh terhadap tatanan bersosial dan masyarkat, dimana masyarakat ada sebagian yang memeluk Islam sehingga nilai-nilai tradisi atau adat istiadat yang mulai di tinggalkan ( walaupun belum sepenuhnya ), ada sebagian yang mencampur antara ajaran Islam dengan adat istiadat, tapi ada sebagian masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi.
SEBAGIAN TEKS HILANG ?
Bernama NYAI GANDRIK, Jafar sidik maupun Nyai gandrik yang sama-sama beragama islam sangat tekun dan bersemangat di dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Grinting, bahkan beliau inilah orang Grinting yang pertama-tama menunaikan ibadah haji ke tanah suci.
Walaupun beliau berdua memeluk agama Islam yang tekun, tetapi tetap memelihara semua warisan leluhurnya baik yang berupa adat istiadat, benda-benda pusaka, maupun tempat-tempat yang di anggap keramat oleh masyarakat waktu itu. Tetapi karena jumlah penduduk desa Grinting yang berkembang sangat cepat, maka oleh Kyai Jafar sidik di sarankan membuat tempat pemakaman baru di utara desa, termasuk membuat sumur baru untuk kebutuhan air tawar warga desa yang kemudian di kenal dengan sumur TANTU LOR. Salah satu kelebihan dari Kyai Jafar sidik adalah mempunyai khodam mahluk halus yang berupa jin yang sangat banyak. Bahkan menurut penuturan beliau, jin-jin ini pernah di gunakan untuk menjaga wilayah desa dari segala bahaya yang mengencam karena wilayah Grinting pernah kedatangan siluman yang akan menghancurkan desa.
Kyai Jafar sidik hanya mempunyai seorang putri yang bernama RORO MENUR, dan Kyai Jafar sidik meninggal di usia 79 tahun, di makamkan di sebelah utara desa sebelah timur jalan desa yang menuju ke area pertambakan. Di daerah dermaga rayu atau dermaga rahayu yang berarti pelabuhan untuk menuju kesejahterahan atau keselamatan ( karena daerah itu pernah di jadikan tempat menambatkan perahu-perahu nelayan ). Tujuh tahun kemudian Nyai Gandrik meninggal dan di makamkan di samping makam Kyai Jafar sidik. Dan menurut penuturan beliau walaupun sekarang tempat petilasanya sudah tidak ada, namun bekas tempat pemakamanya sampai sekarang masih di jaga oleh beberapa jin ( khodam ) yang dulu pernah mengikutinya.
Peninggalan Kyai Jafar sidik :
a. Kitab stambul
b. Terompah ( alas kaki )
c. Sorban
( semuanya masih berada di kompl... S
Sepeninggal Kyai Jafar sidik desa... E
bernama Nyai Roro menur B
A
Pada waktu Grinting di tetuai oleh... G
masih bisa di rasakan sampai sekarang... I
pengaturan pertanian, karena walaupun... A
kepemimpinanya sangatlah maju dan bijaks... N
Pengangkatan Roro menur sebagai...
di tentang oleh adik ipar Roro menur sendiri... T
besar, laga : kuat ). Adilaga merasa yang ber... E
karena merasa lebih mampu. Maka, oleh R... K
perdikan sendiri yang kemudian bernama JIPANG... S
Pada masa inilah wilayah Brebes...
Surakarta Hadiningrat, di mana Brebes... H
Pusponegoro. Hubungan masyarakat timur /...
warga Grinting sudah lama baik, walaupun s... I
masuk kedalam wilayah Brebes. Tetapi dalam...
Grinting yang sudah mengikuti tata cara warg...
tata cara pemerintahan di mana perangkat desa,,, L
mengikuti tata cara keraton, adat istiadat mulai...
mulai mengenal aturan-aturan baku yang tertulis.
Pada akhir masa pemerintahan Tum... A
wilayah Grinting mulai di bakukan dengan bat...
di masukan dalam wilayah Brebes.
Nyai Roro menur meninggal di usia 81... N
makam selatan timur utara. ( tapi beliau...
baik peninggalan-peninggalanya, maupun nama p...
6 orang ), yang sebetulnya banyak masyarakat G... G
anak turunanya dari tokoh-tokoh yang di sebutkan di...
PERIODE III
Pada masa periode ini, sebetulnya desa Grinting sudah bisa di katakan sebagai masyarakat yang sudah maju dari sisi kehidupan masyarakatnya, baik yang berupa perekonomian, sosial maupun tata pemerintahanya. Karena pada masa ini keterkaitanya dengan pemerintah desa di bawah Brebes sudah terbentuk, di mana secara kepemerintahan di desa Grinting sudah di tunjuk tetua desa yamg bernama KI JUBANG ( walaupun belum menggunakan pemilihan ).
Menurut candra sangkala ( penanggalan ) dan penuturan Ki Jubang sendiri, penunjukan Ki Jubang menjadi tetua desa Grinting pada tanggal 15 Maret 1773.
Sehingga mulai tanggal itulah secara resmi masuk dalam wilayah Kabupaten Brebes.
Ki Jubang sendiri adalah anak dari Nyai Roro menur yang ke 3, yang kemudian di tuakan sebagai kepala desa. Dan penunjukan ini di dasarkan kepada sikap dan perilaku Ki Jubang yang di anggapnya mempunyai kelebihan-kelebihan di banding masyarakat pada umumnya, baik secara perilakunya yang terpuji maupun sifat-sifat linuwih lainya.
Masa di mana desa Grinting di pegang oleh Ki Jubang inilah desa Grinting semakin bertambah maju, karena salah satu kebijakan Ki Jubang adalah terbuka terhadap masyarakat lainya, yang akhirnya banyak masyarakat di luar desa Grinting yang bergaul dengan masyarakat Grinting, termasuk seringnya desa Grinting di kunjungi oleh rombongan dari para penguasa Brebes waktu itu ( para sinuwun dan keluarganya, baik untuk berburu maupun sekedar rekreasi ). Sehingga banyak tempat-tempat di desa Grinting yang namanya di sesuaikan dengan petilasan-petilasan para sinuwun tersebut, di antaranya dulu di desa Grinting sebelah barat di jadikan tempat memandikan kuda-kuda para sinuwun ( padusan). Sungai kecil di sebelah barat dera, dulu banyak di pakai sfbagai tempat untuk istirahat dan menyimpan barang-barang bawaan para sinuwun sehingga tempat sepanjang sungai itu dulu di pagari oleh do'a-do'a yang masih ber pengaruh sampai sekarang, ( do'a untuk menghindari dari gangguan para bromocorah ).
Ki Jubang meninggal pada usia 84 tahun dan di makamkan di makam selatan, dan meninggalkan 4 orang putra dan 2 orang putri.
Sepeninggal beliau, hampir semua tetua desa di desa Grinting di pegang oleh keturunan-keturunan dari tokoh-tokoh tersebut di atas. Tetapi secara kusus banyak para pepunden yang tidak berkenan sejarah Grinting selanjutnya di tulis di sini, karena selain sudah masuk periode modern juga banyak masyarakat Grinting yang sudah mengetahui kelanjutan dari sejarah desanya.
Maka dengan berat hati dan kerendahan hati yang tulus, kami terpaksa tidak bisa melanjutkan sejarah desa Grinting ini sampai pada periode modern.
 KESIMPULAN :
1. Warga masyarakat Grinting patut bangga, bahwa sejarah desanya banyak terdapat tokoh-tokoh yang kharismatik dan mempunyai sifat pengorbanan dan kepahlawanan yang tinggi.
2. Dari rentetan peristiwa demi peristiwa, ternyata mayoritas masyarakat Grinting masih banyak yang masih mempunyai pertalian darah / keturunan dari para tokoh tersebut. Sehingga wajib menjaga kerukunan dan persaudaraan serta keamanan demi terciptanya masyarakat yang aman, maju dan harmonis demi cita-cita bersama.
3. Banyaknya pening galan-peninggalan dari para leluhur yang masih terjaga dengan baik, baik yang berupa khodam maupun benda-benda pusaka. Sehingga di harapkan masyarakat Grinting mau menjaga nilai-nilai sejarah maupun adat istiadat demi kesinambungan nilai-nilai sejarah, walaupun tentunya untuk tidak meninggalkan keimanan dan ketaukhidan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kita tidak terjebak kepada kemusyrikan.
PENUTUP
Assalamualaikum wr.wb,
Demikian sepenggal perjalanan awal berdirinya desa Grinting, yang mana tentunya banyak kekuranganya karena keterbatasan kami sebagai penulis dan sangat terpaksa banyak kisah-kisah, nama-nama, dan tempat-tempat yang tidak bisa di tulis di sini.
Dan sekali lagi kami mohon maaf apabila dalam penulisan ini banyak tercantum hal-hal yang bersifat ghoib, klenik atau apapun namanya, yang jelas bukan maksud kami untuk membeberkan hal-hal yang tidak masuk rasio atau takhayul, syirik dan sebagainya, tapi inilah kenyataan yang kami dapat dari penuturan beliau-beliau sendiri, bahwa kehidupan masa lalu sangat lekat dengan hal-hal ghoib, ( jaya kawijayaan ).
Dan akhirnya, dengan mengucap syukur Alhamdullah, tulisan ini kami akhiri dan segalanya kami serahkan kepada pembaca.
Wassalamualaikum wr.wb.

Komentar

  1. sugarboo extra long digital titanium styler
    sweet tooth foam shape. micro touch titanium trim 3.2 inches in diameter. black titanium It is perfect for both men and women of today. titanium mountain bikes Made from chi titanium flat iron our premium grade solid solid-steel  Rating: titanium automatic watch 5 · ‎8 reviews

    BalasHapus

Posting Komentar